Manajemen Perubahan (Mental Aparatur)

Share

Dikaitkan dengan konsep "globalisasi", maka Michael Hammer dan James Champy menuliskan bahwa ekonomi global berdampak terhadap 3 C, yaitu customer, competition, dan change. Pelanggan menjadi penentu, pesaing makin banyak, dan perubahan menjadi konstan.Hal ini tidak hanya terjadi di sektor privat. Sektor publik, dimana semua proses serba lamban, mantap dan seluruh perubahan seolah-olah terkendali, mau tidak mau, suka tidak suka, karena kepentingan pelanggan (yang notabene sangat besar - karena pelanggan sektor publik tentu adalah masyarakat) juga mengikuti kaidah 3 C ini. Namun sayangnya tidak banyak orang yang suka akan perubahan, walau begitu perubahan tidak bisa dihindarkan. Perubahan harus dihadapi, karena yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, maka diperlukan satu manajemen perubahan agar proses dan dampak dari perubahan tersebut mengarah pada titik positif.

Manajemen perubahan yang masih merupakan kelanjutan kegiatan dari tahun 2011. Manajemen perubahan adalah suatu proses yang sistematis dengan menerapkan pengetahuan, sarana, dan sumber daya yang diperlukan organisasi untuk bergeser dari kondisi sekarang menuju kondisi yang diinginkan, yaitu menuju ke arah kinerja yang lebih baik dan untuk mengelola individu yang akan terkena dampak dari proses perubahan tersebut.

Sebagai organisasi publik, Badan POM RI, juga tidak lepas dari perubahan itu sendiri. Perubahan yang terjadi baik dalam lingkup internal organisasi maupun perubahan yang terjadi di luar lingkup organisasi yang membawa dampak baik positif bahkan negatif bagi organisasi. Bagaimana perubahan ini dapat dikelola untuk sebesar-besar kemaslahatan organisasi, sehingga seburuk apapun dampak perubahan bagi organisasi, maka organisasi mampu mengantisipasinya. Atau bahkan dari cara pandang yang lebih positif, bagaimana organisasi mengelola perubahan menjadi suatu yang bermanfaat bagi organisasi, dan bagaimana organisasi mampu shape the future bagi organisasi itu sendiri, maka Badan POM pun harus mampu mengelola konsep perubahan tersebut. Demikian juga para anggota organisasinya - yaitu seluruh SDM, harus pula mampu mengelola perubahan ke arah yang positif.

Disadari bahwa mengelola perubahan bukan merupakan suatu yang sederhana. Kebanyakan organisasi dan individu dalam organisasi resisten terhadap perubahan, karena banyak faktor. Perubahan harus dikelola serius karena berpotensi mempunyai hambatan yang cukup besar. Oleh karena itu, perlu dirumuskan strategi dalam mengelola dan melaksanakan perubahan. Pada tahun 2011 telah ditetapkan struktur Program Management Office (PMO) manajemen perubahan, dimana salah satu sub tim yaitu Design Management bertugas merumuskan strategi perubahan, untuk itu dilakukan assessmen kesiapan organisasi untuk berubah. Pengukuran kesiapan organisasi untuk berubah menggunakan kuesioner kesiapan organisasi menghadapi perubahan yang melibatkan responden yang diambil dari seluruh pejabat struktural dan sampling 10% dari populasi fungsional umum dan khusus. Dari hasil kuesioner tersebut, ditetapkan masing-masing strategi perubahan dari 8 area perubahan di dalam reformasi birokrasi yaitu : Organisasi, Tatalaksana, Peraturan perundang-undangan, SDM Aparatur, Pengawasan, Akuntabilitas, Pelayanan Publik serta Pola Pikir (mindset) dan Budaya Kerja (culture set) Aparatur. Sebagai pendukung strategi perubahan telah disusun modul-modul pelatihan serta pelatihan TOT manajemen perubahan bagi agent of change dari seluruh unit kerja. Pada tahun 2012 sampai 2014, akan dilanjutkan dengan pendampingan manajemen perubahan serta evaluasi pelaksanaan manajemen perubahan.


Artikel Manajemen Perubahan (Mental Aparatur)

04/09/2015 - 10:02